Memaknai Kurikulum Pendidikan Rahmatan Lil Alamin

          Sangat menarik dan merasa tergugah. Begitulah kesan ketika membaca ulasan Fathorrahman Ghufron tentang ‘’ Kurikulum Pendidikan Islam Rahmatan lil alamin ‘’ (Jawa Pos edisi Selasa, 29 Maret 2016). Catatan ini mengapresiasi terobosan Dirjen Pendidikan Islam (pendis) Kementrian Agama, Prof. Dr Kamarudin Amin yang merilis kurikulum Pendidikan Islam Rahmatan lil alamin. Langkah strategis Kemenag RI dalam memberlakukan kurikulum pada lembaga pendidikan formal madrasah dan perguruan tinggi Islam dan pondok pesantren ini ditempuh untuk menghindari terjadinya radikalisme dalam dunia keterpelajaran yang bersumber dari muatan materi yang berisikan paham ekstrimis dan fundamentalis yang kini sedang menggejala
            Radikalisme menjadi bahan pembicaraan global di dunia. Terbaru, setelah adanya goncangan bom di Brussel, Belgia beberapa hari lalu tersusul oleh terjadinya ledakan bom serupa di Taman Gulsan–i-iqbal, Lahore, Pakistan yang menewaskan 72 orang dan 341 lainnya luka luka. Hal ini menyiratkan bahwa dunia darurat terorisme. Bahaya laten virus ini tidak akan pernah habis karena ideologi radikalisme terpatri kuat dalam pribadi pelaku teror itu sendiri. Kisah Afif misalnya, pelaku Teror Thamrin beberapa bulan lalu yang merupakan narapidana kasus serupa. Di Lapas, siraman rohani tentang deradikalisasi secara utuh diberikan. Namun, bukannya insaf, ketika bebas, pelaku malah beringas dalam menjalankan aksi ‘’jihad’’ menurut ideologinya.
             Begitulah yang terjadi jika ideologi radikalime sudah mendarah daging dalam diri teroris. Lantas, bagaimanakah cara membendung pola pemahaman menyesatkan tersebut dalam lingkungan keseharian anak kita, terutama di lembaga pendidikan  ?

Modal Sosial Wisata di BOLARATU

         Luar biasa.. Begitulah kesan ketika membaca catatan mas Ahmad Taufiq, dalam kolom redaksi bertitel ‘’ kompetisi inovasi ’’ (Radar Bojonegoro, 3 April 2016). Ia melukiskan tentang bagaimana setiap daerah (kecamatan/desa) berkompetisi untuk memajukan daerahnya masing-masing dengan segenap potensinya. Seperti di Kecamatan Sukosewu, Bojonegoro dengan Bendungan Klepeknya, begitu juga kecamatan lain dengan berbagai inovasinya.
        Berita tentang kepariwisataan yang muncul di wilayah BOLARATU (Bojonegoro, Lamongan, Blora dan Tuban) berbagai media massa, semakin menjadi. Hal ini berlaku juga di jejaring sosial yang dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat kita terutama kalangan muda. Inilah hembusan angin segar tentang prospek dari bidang kepariwisataan saat ini. lantas, bagaimanakah strategi ampuh yang layak untuk dipilih dalam menumbuhkan semangat mengelola potensi wisata yang muncul tersebut menjadi obyek vital untuk menumbuhkan pendapatan masyarakat? bagaimanakah peran masyarakat dalam mendukung upaya menguatkan dunia kepariwisataan ini ?

Berantas Radikalime Pelajar Ala IPNU-IPPNU

            Teror Thamrin yang meletup 14 Januari lalu belum usai. Setidaknya gambaran itu yang bisa kita amati pada media akhir-akhir ini. Terbaru, Densus 88 Anti-teror menangkap lima terduga teroris di Malang, Jawa Timur, Jum’at (19/2). Kelimanya diduga anggota kelompok Jamaah Anshor Khilafah Nusantara (JAKN) yang dikomandoi Amman Abdurrahman. Jaringan ini diduga kuat memiliki hubungan dengan teror di kawasan Thamrin  yang menewaskan delapan orang, termasuk empat pelaku tersebut ( Jawa Pos edisi Minggu, 21 Februari 2016 )
Gerakan terorisme semakin menggejala karena kedangkalan pola berfikir dalam agama yang berupaya untuk merombak secara total suatu tatanan sosial / tatanan politis yang ada dengan menggemakan kekerasan (Jaka Sutapa:2004:1). Gerakan ini adalah bentuk ketidakmampuan seseorang dalam memahami pemahaman keagamaan secara universal. Sikap keagamaan tidak dipandang lagi sebagai aktualiasasi nilai kemasyarakatan yang digariskan oleh pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara RI