Modal Sosial Wisata di BOLARATU
Luar biasa.. Begitulah kesan ketika membaca catatan mas Ahmad Taufiq, dalam kolom redaksi bertitel ‘’ kompetisi inovasi ’’ (Radar Bojonegoro, 3 April 2016). Ia melukiskan tentang bagaimana setiap daerah (kecamatan/desa) berkompetisi untuk memajukan daerahnya masing-masing dengan segenap potensinya. Seperti di Kecamatan Sukosewu, Bojonegoro dengan Bendungan Klepeknya, begitu juga kecamatan lain dengan berbagai inovasinya.
Berita tentang kepariwisataan yang muncul di wilayah BOLARATU (Bojonegoro, Lamongan, Blora dan Tuban) berbagai media massa, semakin menjadi. Hal ini berlaku juga di jejaring sosial yang dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat kita terutama kalangan muda. Inilah hembusan angin segar tentang prospek dari bidang kepariwisataan saat ini. lantas, bagaimanakah strategi ampuh yang layak untuk dipilih dalam menumbuhkan semangat mengelola potensi wisata yang muncul tersebut menjadi obyek vital untuk menumbuhkan pendapatan masyarakat? bagaimanakah peran masyarakat dalam mendukung upaya menguatkan dunia kepariwisataan ini ?
Mindset building
Pada saat ini, peran masyarakat dalam berupaya menumbuhkan potensi wilayahnya menjadi destinasi wisata baru juga mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten setempat. hasilnya, masyarakat sebagai penggerak geliat kepariwisataan sehingga memunculkan wacana pengembangan pariwisata berbasis masyarakat ( Radar Bojonegoro, 21 Maret 2016 )
Upaya tersebut jelaslah relevan dengan upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM). Hal itu terjadi karena membangun kualitas SDM jauh lebih penting daripada mengharap keberlangsungan dari kemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Hal ini jelaslah penting mengingat kita berada di gerbang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hermawan Kertajaya, guru marketing dunia sekaligus founder dan CEO MarkPlus, menyebut MEA sebagai era latihan anak muda dalam mengembangkan kapasitas dan potensinya untuk meraih kesejahteraan.
Untuk mencapai itu semua, haruslah ada upaya memprogram ulang mindset masyarakat sebagai pengelola yang handal. Pola mikir masyarakat secara luas harus diubah menjadi pola pikir seorang leader yang tidak mudah berpuas diri dan tiada lelah dalam membangun potensinya. Hal itu dapat dibenarkan jika merujuk pada pendapat Paul G Stolt dalam Adversity Quotient (2000) yang mengklasifikasikan manusia menjadi tiga tipe. yaitu pendaki (climbers), campers (pekemah) dan penunggu (Qiutters). Tiga tipe inilah yang terjadi pada pola pikir manusia kebanyakan. Jika menginginkan menjadi pengelola yang baik, maka keputusan ‘’wajib’’ dijatuhkan pada tipe climbers. Tipe inilah yang akan membawa perubahan besar dalam kehidupan kita.
Selain ittu, yang tidak kalah penting adalah membangun modal sosial yang merupakan syarat pembangunan daerah berkelanjutan (Sustainable Development). Modal sosial adalah kebutuhan bagi setiap orang atau masyarakat untuk mencapai tujuan besar yang ingin dicapainya termasuk dalam pengembangan kepariwisataan ini.
Modal sosial dan pembangunan masyarakat
Francis Fukuyama menyebut menyebut modal sosial sebagai syarat mutlak bagi pembangunan manusia, sosial, politik dan stabilitas ekonomi. Membangun modal sosial sama pentingnya dengan modal materiil. Perlunya membangun modal sosial digariskan oleh Robert Putnam (1993) sebagai pranata sosial yang memungkinkan koordinasi dan kerja sama demi manfaat bersama yang melekat pada jaringan-jaringan dan relasi warga bermasyarakat. Ia mencontohkan modal sosial yang dimiliki Italia ketika tahun 1970-an yang membangi teritorial wilayah menjadi Italia Utara dan Italia Selatan. Hasilnya, Italia lebih unggul karena memegang penuh nilai kejujuran, saling membantu dan jaringan sosial yang utuh dan dinamis.
Study Putnam yang juga guru besar Harvard University ini menandaskan akan pentingnya pola pengembangan daerah berkelanjutan (sustainable development) antara pemkab, warga masyarakat dan berbagai stakeholdernya. Dengan sinergi yang berlandaskan kepercayaan (trust), saling pengertian (mutual understanding) berasaskan karakter kegotongroyongan dan saling percaya, bukan tidak mungkin akan lahir kemanfaatan besar bagi berbagai pihak (simbiosis mutualisme).
Strategi alternatif pengembangan kepariwisataan
EF. Schumacher (1973) menjelaskan tentang perlunya strategi pembangunan harus dimulai dari seseorang bukan barang. Menurutnya, tiga aspek penting yang harus dibangun yaitu pendidikan, organisasi dan disiplin. Dengan membangun ketiga unsur ini, akan tercipta pembangunan yang dinamis dan berdaya saing yang tinggi.
Dalam ranah pendidikan sesuai perspektif Schumacher, pemkab dapat mengedukasi rakyatnya tentang segala seluk beluk potensi kepariwisataan di tiap-tiap daerah yang dicanangkan menjadi kawasan wisata. Hal ini dapat dilakukan dengan menggandeng berbagai pihak yang terkait dengan hal tersebut. Hal ini bisa kita lihat seperti di kawasan wisata terbaru di kecamatan Sekar, Bojonegoro yaitu Wisata Atas Angin. Obyek wisata berbasiskan adventure di alam terbuka tersebut telah membentuk kelompok kerja wisata (POKDARWIS) yang berasal dari masyarakat sekitar. Nilai kemanfaatan dari pola ini adalah terciptanya tanggungjawab masyarakat sekitar akan obyek wisata di wilayahnya sehingga akan tercipta simbiosis mutualisme antara pemkab dengan masyarakat sekitar dalam mengelola kepariwisataan yang ada.
Dan yang tak kalah penting dari itu semua adalah adalah kedisiplinan dalam pengelolaan obyek wisata dalam berbagai hal seperti tata kelola administrasi, pelayanan pengunjung, regulasi tarif masuk dan promosi wisata patut menjadi perhatian penuh penggelola lokal yang ada.
Dalam hal ini, dari kalangan pihak pemerintah dapat mewujudkan penerbitkan peraturan daerah (perda) tentang pengelolaan obyek wisata dan pemenuhan infrastruktur serta proses perijinan yang cepat dan bermanfaat. Sedangkan masyarakat dapat berperan aktif dalam mengawal potensi wisata di daerahnya
Selain membentuk pengembang wisata dari masyarakat sekitar, alangkah baiknya jika kita memanfaatkan media internet sebagai wadah promosi yang cepat dan murah. Salah satu melalui blog. Apalagi muncul sekarang ini komunitas blog yang menjamur. Mereka bersedia mengeksplor keindahan dan keunggulan obyek wisata melalui blog mereka. Selain blog, mereka pada kenyataannya dengan senang hati mempromosikan paket wisata kita dengan sosial media mereka seperti Facebook, twitter maupun Instagram. Selamat berpetualang di BOLARATU !!.. hayooo….

0 komentar:
Posting Komentar