Keep Your Believe !!

00.09 Unknown 0 Comments


Sebuah kebetulan tapi bermakna sangat berharga. Begitulah pelajaran yang saya dapatkan kisah bab dinamit dari Skandinavia yang ada di novel Ranah 3 Warna karya A Fuadi. Dikatakan kebetulan karena kisah yang di ceritakan tentang perjalanan timnas Denmark di Euro 1992. Tim Dinamit - julukan timnas Denmark - yang kala itu harus bertemu dengan Belanda dan Jerman kini juga harus mengalami hal serupa di grup B Euro 2012 dengan tim yang sama yaitu Jerman dan Belanda serta Portugal.
Dalam kisahnya, Timnas Denmark yang kala itu disebut tim yang tidak diperhitungkan (underdog) karena masuknya ke putaran final sebagai tim pengganti timnas Yogoslavia yang terpaksa di DO alias Drop Out oleh PBB karena terlibat perang. Timnas Denmark tampil trengginas dengan mengalahkan Timnas Belanda  dengan skor 5 - 4 melalui adu penalti. Tantangan terakhirnya adalah  timnas Jerman di babak Final. Diluar dugaan, tim Dinamit melibas tim panser  Jerman dengan skor meyakinkan, 2-0. Denmark akhirnya  terdapuk sebagai the champion of Eropa .
Tadi malam, keajaiban terulang kembali. Denmark yang disebut tim underdog di grup B karena rata kualitas pemainnya masih dibawah Portugal, Belanda dan Jerman  mampu membungkam perlawanan Timnas Belanda yang digadang gadang sebagai calon juara Euro yang digelar di Polandia dan Ukrania ini dengan skor 1-0. Akankah ada kejutan terjadi lagi?? Kita tunggu saja.
Kisah sebagai Tim underdog yang dirasakan tim Dermark adalah salah satu bukti bahwa keyakinan untuk menjadi pemenang mutlak harus kita ciptakan. Dengan keyakinan kuat ( strong belief ), segala rintangan akan terlahir menjadi penguat langkah bukan menjadi sebuah kendala yang melemahkan kita.
Terkadang kita selalu psimis dalam berbuat untuk  perubahan  yang lebih  baik. Hal itu terjadi karena dari awal kita tidak membangun keyakinan (belief) yang kuat. Dalam Al Quran (Surah Al mukminun : 1) disebutkan ‘’sungguh beruntunglah orang yang beriman’’. Beriman bermakna percaya dan meyakini sesuatu yang menjadi keyakinannya. Maka sudah seharusnya kita membangun keyakinan kapanpun dan dimanapun kita berada. Keyakinan jugalah yang menjadi pondasi dasar yang mampu membentuk pikiran, ucapan, tindakan, kebiasaan, karakter (nilai kekhasan) dan tujuan hidup yang ingin kita capai. Sebagaimana tokoh anti kekerasan dari India, Mahatma Gandhi berpesan ‘’Your beliefs become your thoughts, your thoughts become your words, your words become your actions, your actions become your habits, your habits become your values, your values become destiny’’.
Dengan meyakini sesuatu sepenuh hati, apapun yang kita inginkan akan menjadi kenyataan. Hal ini terjadi karena dengan memusatkan perhatian pada satu obyek ( dalam hal ini adalah proses menyakini) akan mampu memunculkan rentetan semangat yang saling tersambung dan melakukan pembenaran pada diri kita bahwa kita bisa dan kita mampu untuk melakukan atau meraih sesuatu. Apa salahnya kita memiliki keyakinan yang kuat? Dan apa untungnya kita tidak memiliki keyakinan? Karena pada dasarnya bentuk energi yang kita keluarkan adalah sama dengan apa yang akan kita dapatkan. Dalam dimensi spiritualitas (nilai keagamaan) kita menyakini bahwa Allah SWT mengikuti prasangka hambanya. Jika hamba berprasangka baik( khusnudzon), maka ia akan di perlakukan sebaik prasangka hambanya ( Hadits Qudsi) .
Anthony Robbins dalam Giant Steps : Small Changes to Make a Big Difference mengajarkan bahwa keyakinan kita tentang apa yang mampu kita lakukan, keyakinan kita tentang apa yang mungkin atau tidak mungkin, dan keyakinan kita tentang siapa diri kita, menentukan apa yang berhasil atau gagal kita capai dalam hidup. Kita terkadang merasa takut untuk meyakini karena terbelenggu oleh bayangan yang memberikan pelajaran berharga berupa kegagalan  pada masa lalu kita. Kita terkubur pada paradigma negatif dan seakan akan kita tidak bisa bangkit kembali untuk menjadi yang lebih baik.
Ada tiga tingkatan keyakinan kita. Pertama adalah weak belife (opini) ini bersifat sementara sehingga mudah digeser oleh sesuatu yang lain, kedua adalah moderate belief (kepercayaan). Ini sedikit lebih kuat kerena didukung oleh banyak pengalaman namun bisa digoyang oleh pertanyaan tertentu yang kritis sedangkan yang ketiga adalah Strong Belief atau Conviction (keyakinan). Inilah yang sangat kuat dan sulit untuk dirubah bahkan terkadang terlalu keras untuk mempertahankannya sekalipun nyawa menjadi pertaruhannya.
Contoh suksesnya adalah sang teladan Umat, Nabi Muhammad SAW. Beliau terlahir sebagai seorang yang yatim piatu  sejak berusia enam tahun. Beliau menjadi mandiri  di usia muda karena  jerih payahnya sebagai seorang pedagang membentuknya menjadi pribadi yang  dapar dipercaya (al amin). Beliau adalah pedagang ulung yang selalu mengutamakan kejujuran hingga akhirnya Beliau meminang Siti Khadijah di usia 25 tahun dengan 100 ekor unta merah dan beliau di angkat Allah menjadi seorang Rosul pada usia empat puluh tahun. Keyakinan beliau untuk menjaga nilai suci agama Allah patut kita teladani. Rintangan yang menghadang bukanlah alasan untuk menjadi pribadi yang malas namun malah menjadikan pemicu semangat beliau untuk gigih dalam berdakwah.
Keyakinan untuk meraih sesuatu terkadang masih sulit terbangun pada diri kita. Ini dikarenakan  karena kita masih terbelenggu oleh pola pikir kita - yang begitu mudah melakukan pembenaran pada masalah/kendala bukan pada peluang - yang sering menjerumuskan kita pada sikap negatif seperti ketakutan,  keraguan dan kemalasan. Padahal diri kita dianugerahi oleh Allah dengan  berbagai potensi yang sangat bermanfaat. Salah satunya adalah kemamuan berpikir. Albert Einstein meyakini, dunia yang kita ciptakan adalah hasil dari berfikir kita. Maka sudah sewajarnya kita memperbaiki dengan terus menurus pola pikir kita dengan banyak belajar.
Mari kita jadikan setiap tempat yang kita diami sebagai lahan untuk belajar. Sehingga kita mampu merubah pola pikir kita seperti pola pikir sang juara. Sehingga kita mampu menciptakan keyakinan besar bagi diri kita untuk berubah menjadi lebih baik. Jika kembali ke ilustras cerita di atas , kita posisikan diri kita pada pilihan terbaik kita, striker yang mampu menembak atau memecahka permasalahan menjadi peluang atau playmaker yang mampu memimpin organisasi  terbaik  kita atau menjadi goal keeper yang tangguh menjaga amanah  kita untuk menggelola potensi dari Allah yang sangat besar.  Semua terserah pada anda. Anda siap?

You Might Also Like

0 komentar: